FK UPI Gulirkan Program SETARA untuk Cegah Pernikahan Dini dan Stunting

FK UPI melaksanakan program SETARA di Balai Desa Suntenjaya, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, pada Rabu (29/7/2026). FOTO: ISTIMEWA/LAMPU HIJAU
Kamis, 30 Juli 2026, 19:25 WIB
Daerah Plus

LampuHijau.co.id - Upaya pencegahan pernikahan dini memerlukan keterlibatan seluruh elemen masyarakat. Berangkat dari semangat tersebut, Fakultas Kedokteran Universitas Pendidikan Indonesia (FK UPI) menyelenggarakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) bertajuk SETARA (Sehat Reproduksi untuk Remaja): Edukasi Anatomi Reproduksi dan Literasi Kesehatan Berbasis Komunitas sebagai Upaya Pencegahan Pernikahan Dini di Balai Desa Suntenjaya, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, pada Rabu (29/7/2026).

Kegiatan ini merupakan bentuk nyata implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi sekaligus kontribusi FK UPI dalam mendukung Program Percepatan Penurunan Stunting, Program Pembangunan Keluarga Berkualitas, serta pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera), SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), dan SDG 5 (Kesetaraan Gender).

Edukasi kesehatan reproduksi dipandang sebagai salah satu strategi promotif dan preventif yang penting dalam mempersiapkan remaja menuju kehidupan berkeluarga yang sehat dan bertanggung jawab.

Workshop dan talkshow tersebut dihadiri oleh Kepala Desa Suntenjaya beserta jajaran perangkat desa, perwakilan Puskesmas, Kantor Urusan Agama (KUA), Majelis Ulama Indonesia (MUI), Balai Penyuluh Desa, Penyuluh Keluarga Berencana (PKB), Karang Taruna, serta berbagai tokoh masyarakat.

Peserta berasal dari unsur Ketua RT dan RW beserta perwakilannya, kader Posyandu, kader PKK, serta perwakilan guru SD, SMP, dan SMA yang diharapkan menjadi penggerak edukasi di lingkungan masing-masing.

Program SETARA diketuai oleh dr. Fenny Dwiyatnaningrum, M.Kes., M.M.R.S., dengan menghadirkan dr. Sella Zenitasari, Sp.OG. sebagai narasumber bidang obstetri dan ginekologi sosial yang membahas dampak medis dan sosial pernikahan dini, serta Dr. dr. Riksma Nurahmi, RA., M.Pd. yang menyampaikan materi mengenai anatomi reproduksi dan kesehatan reproduksi remaja. Kegiatan dipandu oleh dr. Pipit Pitriani, Ph.D., Wakil Dekan I Fakultas Kedokteran UPI, sebagai moderator.

Baca juga : Puluhan Pelajar Subang Ikuti Pelatihan Digital Media dan Jurnalistik di SMAN 1 Pusakanagara

Keberhasilan penyelenggaraan kegiatan ini juga didukung oleh keterlibatan aktif mahasiswa Fakultas Kedokteran UPI. Para mahasiswa berpartisipasi sejak tahap persiapan hingga pelaksanaan kegiatan, mulai dari registrasi peserta, pendampingan kelompok diskusi, edukasi kesehatan, hingga membantu pelayanan pemeriksaan kesehatan gratis.

Keterlibatan tersebut menjadi implementasi pembelajaran berbasis service learning yang memberikan pengalaman nyata kepada mahasiswa dalam mengintegrasikan kompetensi akademik dengan kebutuhan masyarakat.

Selain edukasi, masyarakat memperoleh layanan pemeriksaan kesehatan gratis yang meliputi pemeriksaan kadar hemoglobin (Hb), gula darah, kolesterol, dan asam urat. Layanan ini menjadi bagian dari upaya deteksi dini faktor risiko penyakit sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kesehatan sejak usia remaja hingga dewasa.

Dalam sambutannya, Kepala Desa Suntenjaya menekankan bahwa pencegahan stunting harus dimulai jauh sebelum kehamilan terjadi.

"Pencegahan stunting tidak dimulai ketika seorang ibu sudah hamil, melainkan sejak remaja dipersiapkan menjadi generasi yang sehat. Salah satu hulunya adalah mencegah terjadinya pernikahan dini. Oleh karena itu, sinergi antara pemerintah desa, tenaga kesehatan, dunia pendidikan, tokoh agama, dan masyarakat menjadi sangat penting agar generasi muda memiliki bekal pengetahuan, kesiapan, dan masa depan yang lebih baik," ujarnya.

Ketua Pelaksana PkM, dr. Fenny Dwiyatnaningrum, M.Kes., M.M.R.S., menjelaskan bahwa kesehatan reproduksi merupakan investasi jangka panjang bagi kualitas sumber daya manusia Indonesia.

Baca juga : PT JUP Lakukan Perawatan IPA Hutan Kota, Pelanggan Diimbau Menyiapkan Cadangan Air Selama Pasokan Terganggu

"Masa depan bangsa ada di tangan para remaja. Oleh karena itu, pembekalan pemahaman yang tepat mengenai kesehatan reproduksi serta dampak pernikahan dini menjadi sangat mendesak agar mereka mampu menjaga kesehatan fisik, kesehatan mental, sekaligus tetap memiliki kesempatan meraih cita-cita setinggi mungkin. Workshop dan talk show ini kami harapkan tidak hanya menjadi ruang berbagi ilmu, tetapi juga menjadi titik awal kolaborasi yang berkelanjutan bagi masyarakat Desa Suntenjaya dalam mencetak remaja yang sehat, berdaya, dan berani bermimpi besar," jelasnya.

Dalam paparannya, dr. Sella Zenitasari, Sp.OG. menegaskan bahwa pernikahan dini memiliki dampak multidimensi yang tidak dapat dipandang hanya dari aspek kesehatan.

"Pernikahan dini membawa konsekuensi yang sangat luas. Dari sisi medis, remaja memiliki risiko lebih tinggi mengalami anemia, komplikasi kehamilan, persalinan prematur, hingga melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah. Namun dampaknya juga mencakup gangguan psikologis akibat belum matangnya kesiapan emosional, terputusnya pendidikan, berkurangnya kesempatan kerja, meningkatnya kerentanan ekonomi keluarga, hingga munculnya berbagai persoalan sosial di lingkungan masyarakat. Karena itu, pencegahannya harus menjadi tanggung jawab bersama," paparnya.

Diskusi yang berlangsung hangat menghasilkan sejumlah rekomendasi strategis. Peserta menilai bahwa edukasi kesehatan reproduksi perlu diperluas melalui pendekatan keluarga dengan melibatkan orang tua dan remaja secara bersamaan.

Selain itu, perspektif keagamaan dinilai memiliki peran penting dalam membangun karakter, memperkuat nilai moral, dan mempersiapkan kehidupan berkeluarga yang sehat.

Sebagai tindak lanjut, tim Pengabdian kepada Masyarakat FK UPI menawarkan pembentukan Pendidik Sebaya (Peer Educator) atau Konselor Sebaya di lingkungan Desa Suntenjaya.

Baca juga : Puluhan Pelajar di Pantura Subang Ikuti Pelatihan Jurnalistik dan Konten Digital

Para calon konselor sebaya akan mendapatkan pelatihan khusus dari tim FK UPI mengenai kesehatan reproduksi remaja, komunikasi efektif, konseling dasar, literasi kesehatan, pencegahan pernikahan dini, serta mekanisme rujukan apabila ditemukan permasalahan yang memerlukan pendampingan tenaga kesehatan atau institusi terkait.

Diharapkan para konselor sebaya dapat menjadi agen perubahan yang mampu menyebarluaskan informasi kesehatan reproduksi secara benar, membangun budaya saling mendukung antara remaja, serta menjadi jembatan antara masyarakat dengan layanan kesehatan.

Peserta juga mengusulkan agar program lanjutan menghadirkan narasumber dari BKKBN untuk memperkuat aspek pembangunan keluarga, Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk memberikan perspektif keagamaan, serta Fakultas Kedokteran UPI sebagai penguat aspek ilmiah kesehatan reproduksi.

Kolaborasi lintas sektor ini diharapkan mampu menciptakan ekosistem yang mendukung remaja dalam mempersiapkan masa depan secara sehat, matang, dan bertanggung jawab.

Melalui Program SETARA, Fakultas Kedokteran Universitas Pendidikan Indonesia menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan program pengabdian yang berorientasi pada pemberdayaan masyarakat, penguatan literasi kesehatan, serta pembentukan generasi muda yang sehat, berkarakter, dan berkualitas.

Dengan sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah, tenaga kesehatan, tokoh agama, dunia pendidikan, dan masyarakat, upaya pencegahan pernikahan dini diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan edukatif, melainkan berkembang menjadi gerakan bersama yang berkelanjutan dalam mendukung terwujudnya Indonesia Emas 2045. (rls)

Index Berita
Tgl :
Silahkan pilih tanggal untuk melihat daftar berita per-tanggal