Dari -Vargentina- Sampai Israel ; Saat Prasangka Mengalahkan Fakta

Minggu, 12 Juli 2026, 15:34 WIB
Jakarta City

LampuHijau.co.id - Agung Nugroho (Pemaen Bola Kampung)

 

Piala Dunia seharusnya menjadi panggung untuk menikmati sepak bola. Namun, di era media sosial, pertandingan sering kali tidak hanya berlangsung di lapangan. Di kolom komentar, narasi, prasangka, dan teori konspirasi justru kerap bermain lebih agresif daripada para pemainnya.

Salah satu narasi yang paling sering muncul sepanjang Piala Dunia 2026 adalah tudingan bahwa Argentina merupakan "anak emas FIFA". Setiap kemenangan dianggap hasil bantuan wasit. Setiap keputusan VAR yang menguntungkan langsung melahirkan istilah "Vargentina".

Seolah-olah tidak ada kemenangan Argentina yang lahir dari kualitas permainan, melainkan semuanya merupakan bagian dari skenario besar. Menariknya, narasi tersebut berubah mengikuti situasi. Ketika muncul keputusan kontroversial yang dianggap menguntungkan tim lain, tudingan "anak emas FIFA" pun ikut berpindah.

Amerika Serikat, misalnya, sempat menjadi sasaran setelah keputusan kartu merah yang semula diberikan kemudian dibatalkan. Artinya, label "anak emas FIFA" lebih sering lahir dari rasa kecewa daripada dari analisis yang benar-benar berbasis fakta.

Perdebatan seperti ini sebenarnya masih wajar selama tetap berada dalam konteks sepak bola. Rivalitas adalah bagian dari keindahan olahraga ini. Masalahnya, belakangan kebencian terhadap Argentina mulai merambah ke isu yang sama sekali berbeda, yaitu konflik Palestina dan Israel.

Baca juga : Pasarkan Situs Judol Lewat Grup WA, Pria Ditangkap Polisi Pelabuhan Tanjung Priok

Pemicunya adalah beredarnya video yang memperlihatkan sejumlah orang di tribun mengibarkan bendera Israel saat pertandingan Argentina melawan Mesir. Dari potongan video itu, sebagian orang langsung menyimpulkan bahwa Argentina merupakan pendukung Israel.

Padahal, kesimpulan tersebut merupakan lompatan logika yang terlalu jauh. Beberapa orang di tribun tidak bisa dijadikan representasi sikap satu bangsa. Sama seperti satu kelompok suporter tidak dapat dianggap mewakili pandangan seluruh rakyat sebuah negara.

Memang benar, pemerintahan Presiden Javier Milei mengambil kebijakan luar negeri yang lebih dekat dengan Israel. Sejak menjabat, Milei secara terbuka mempererat hubungan diplomatik dengan Israel dan menunjukkan dukungan terhadap sejumlah kebijakan negara tersebut.

Namun, posisi seperti ini bukan hanya diambil oleh Argentina. Sejumlah negara di Timur Tengah, seperti Uni Emirat Arab, Bahrain, Mesir, Yordania, dan Maroko telah menjalin hubungan diplomatik dengan Israel. Arab Saudi juga beberapa kali menunjukkan sinyal keterbukaan terhadap normalisasi hubungan, meskipun hingga kini belum memiliki hubungan diplomatik resmi.

Sementara itu, Iran beserta kelompok-kelompok yang berada dalam poros pengaruhnya tetap menolak normalisasi hubungan dengan Israel. Fakta tersebut menunjukkan bahwa hubungan diplomatik sebuah pemerintah dengan Israel tidak bisa dijadikan ukuran untuk menilai sikap seluruh rakyatnya.

Dalam politik internasional, kepentingan negara sering kali berbeda dengan pandangan masyarakat. Terlebih dalam negara demokrasi, pemerintah dapat mengambil suatu kebijakan, sementara sebagian rakyatnya justru menyampaikan penolakan secara terbuka. Hal itulah yang juga terjadi di Argentina.

Dalam beberapa tahun terakhir, Buenos Aires dan sejumlah kota di Argentina berulang kali menjadi lokasi aksi solidaritas untuk Palestina. Menjelang Piala Dunia U-20 2023, demonstrasi yang menolak kehadiran Israel sempat terjadi. Setelah perang Gaza pecah pada 2023, berbagai organisasi masyarakat sipil, mahasiswa, serikat pekerja, hingga kelompok hak asasi manusia beberapa kali turun ke jalan mengecam kekerasan terhadap warga sipil Palestina dan menyatakan solidaritas terhadap rakyat Palestina.

Baca juga : Peduli Palestina, Pegawai Pemkot Tangerang Kolekan Rp918,5 Juta

Fakta lain yang sering terlupakan adalah keputusan Tim Nasional Argentina membatalkan pertandingan persahabatan melawan Israel pada 2018. Laga yang semula dijadwalkan berlangsung di Yerusalem sebagai bagian dari persiapan menuju Piala Dunia Rusia akhirnya dibatalkan setelah muncul tekanan politik, aksi protes kelompok pro-Palestina, serta pertimbangan keamanan.

Keputusan tersebut memicu kekecewaan pemerintah Israel, tetapi disambut baik oleh Federasi Sepak Bola Palestina. Fakta ini menunjukkan bahwa hubungan sepak bola Argentina dengan Israel tidak sesederhana yang dibayangkan banyak orang.

Di sisi lain, Argentina juga merupakan rumah bagi komunitas Yahudi terbesar di Amerika Latin. Karena itu, terdapat pula kelompok masyarakat yang mendukung Israel. Keberagaman pandangan tersebut merupakan hal yang lazim dalam negara demokrasi. Tidak ada satu kelompok yang dapat mengklaim mewakili seluruh rakyat Argentina. Di sinilah letak kekeliruan yang sering muncul dalam perdebatan media sosial.

Banyak orang mencampuradukkan empat hal yang sebenarnya berbeda: kebijakan pemerintah Argentina, pandangan masyarakat Argentina, Tim Nasional Argentina, dan tindakan beberapa suporter di tribun. Padahal, keempatnya tidak selalu berjalan searah. Pemerintah dapat mengambil kebijakan tertentu, sementara sebagian rakyat justru turun ke jalan menentangnya.

Tim nasional sepak bola pun tidak bisa dibebani untuk mewakili seluruh sikap politik sebuah bangsa, apalagi hanya karena tindakan beberapa orang yang membawa bendera di stadion. Ironisnya, fakta-fakta seperti ini sering kalah oleh potongan video berdurasi beberapa detik.

Di era media sosial, satu cuplikan pendek lebih cepat dipercaya daripada sejarah yang panjang. Padahal, memahami sebuah negara membutuhkan konteks, bukan sekadar cuplikan yang viral. Karena itu, menyimpulkan bahwa Argentina mendukung Israel hanya berdasarkan aksi sejumlah suporter di tribun jelas bukan kesimpulan yang dibangun di atas fakta, melainkan asumsi yang lahir dari generalisasi.

Kalau memang tidak menyukai Argentina karena gaya bermainnya, itu sah-sah saja. Kalau masih kesal karena tim favoritmu pernah disingkirkan Argentina, juga tidak masalah. Kalau ingin mengkritik keputusan wasit, mari gunakan tayangan ulang, aturan permainan, dan analisis pertandingan.

Baca juga : Korban PHK Target Empuk Mafia Perdagangan Orang

Namun, jangan membawa isu geopolitik hanya berdasarkan satu video yang belum tentu mewakili kenyataan. Terlebih ketika fakta-fakta lain yang bertentangan justru diabaikan. Sepak bola memang hidup dari rivalitas.

Kita bebas mendukung Brasil, Portugal, Inggris, Maroko, atau tim nasional mana pun

Kita juga bebas tidak menyukai Argentina. Namun, rivalitas akan jauh lebih sehat jika dibangun di atas fakta, bukan prasangka. Pada akhirnya, sepak bola adalah permainan yang mempertemukan berbagai bangsa, bukan ajang untuk menghakimi sebuah negara berdasarkan tindakan segelintir orang.

Sebab ketika prasangka lebih dipercaya daripada fakta, yang kalah bukan lagi Argentina atau lawannya. Yang benar-benar kalah adalah akal sehat kita. (ULI)

Index Berita
Tgl :
Silahkan pilih tanggal untuk melihat daftar berita per-tanggal