LampuHijau.co.id - Suasana berbeda terasa di Ruang Pustaka Loka, Kompleks DPR RI, Senin (20/4/2026) lalu. Di tengah hiruk-pikuk politik yang kerap keras dan penuh kalkulasi, sebuah buku puisi justru menjadi pusat perhatian. Sekretaris Jenderal Partai Golkar, M. Sarmuji, meluncurkan karya bertajuk “Ekspresi Cinta, Karya dan Doa”—sebuah refleksi personal yang lahir dari lorong-lorong kekuasaan.
Anggota DPR RI Fraksi Partai Golkar, Firman Soebagyo, menyambut hangat peluncuran tersebut. Ia menilai, kehadiran buku ini bukan sekadar karya sastra, melainkan penegasan bahwa politik sejatinya tidak boleh tercerabut dari nilai kemanusiaan dan kebudayaan.
“Ini penanda penting bahwa politik dan literasi berjalan beriringan. Amanat Pasal 32 UUD 1945 jelas, negara wajib memajukan kebudayaan,” ujar Firman di sela acara.
Baca juga : Ancaman “Bom Waktu” Guru Honorer, Firman Soebagyo: Negara Jangan Tutup Mata
Menurutnya, langkah Sarmuji menulis puisi di tengah kesibukan sebagai elite partai adalah bentuk refleksi yang langka. Di balik angka, data, dan keputusan politik, ada ruang sunyi yang tetap harus dijaga: nurani. Buku “Ekspresi Cinta, Karya dan Doa” memuat kumpulan puisi dan lirik lagu yang ditulis Sarmuji di sela aktivitasnya sebagai legislator.
Tema yang diangkat pun tidak ringan—mulai dari kecintaan terhadap tanah air, potret kehidupan rakyat kecil, nasib guru honorer, hingga doa-doa kebangsaan. Sarmuji mengungkapkan, menulis adalah cara pribadinya untuk tetap terhubung dengan realitas sosial yang sering kali luput di tengah dinamika politik yang keras.
“Puisi-puisi ini lahir di mobil dinas, ruang rapat, hingga dapil saat saya bertemu guru honorer dan petani. Data melahirkan kebijakan, tapi rasa melahirkan keberpihakan,” ujarnya. I
Baca juga : IKKP Diminta Lebih Produktif, Firman Soroti Pentingnya Kontribusi Nyata
a menegaskan, buku ini menjadi pengingat agar dirinya tidak kehilangan empati sebagai wakil rakyat. “Saya tidak ingin lupa rasanya jadi rakyat,” tambahnya.
Pemilihan Ruang Pustaka Loka sebagai lokasi peluncuran juga bukan tanpa makna. Bagi Sarmuji, perpustakaan adalah ruang refleksi—tempat lahirnya gagasan dan kejernihan berpikir.
“Pustaka adalah ruang sunyi tempat bangsa berpikir. Saya ingin puisi politik lahir dari perpustakaan, bukan hanya dari podium,” katanya.
Baca juga : Dihadiri Ketum PWI Pusat, Pemberian Santunan dari PWI Jaya Meriah
Acara ditutup dengan pembacaan puisi berjudul “Doa dari Senayan”, musikalisasi puisi, serta penyerahan buku secara simbolis kepada sejumlah pihak, termasuk perwakilan guru honorer.
Firman menegaskan, kehadiran karya seperti ini menjadi sinyal bahwa kepekaan sosial masih hidup dalam dunia politik. “Politik boleh keras, tapi jangan kehilangan puisi. Dari pustaka, biar diksi menjadi aksi,” pungkasnya. (Asp)