Rupiah Tembus Rp17 Ribu per Dolar, DPR Ingatkan Ancaman Kolaps Industri Nasional

Wakil Ketua Komisi VI DPR RI, Adisatrya Suryo Sulisto. FOTO (Dok. DPR RI)
Kamis, 21 Mei 2026, 12:45 WIB
Political News

LampuHijau.co.id - Pelemahan nilai tukar rupiah yang kini menembus level Rp17 ribu per dolar Amerika Serikat mendapat sorotan serius dari Wakil Ketua Komisi VI DPR RI, Adisatrya Suryo Sulisto. Ia mengingatkan, kondisi tersebut memang dapat menjadi peluang bagi sektor ekspor, namun di saat bersamaan juga berpotensi menghantam industri nasional yang masih bergantung pada bahan baku impor.

Menurut Adisatrya, kurs rupiah yang melemah membuat produk Indonesia menjadi lebih murah dan kompetitif di pasar internasional. Kondisi ini dinilai bisa dimanfaatkan untuk mendongkrak ekspor nasional.

“Dengan nilai kurs rupiah sekarang lagi lemah, sebenarnya kalau untuk ekspor jadinya barang kita lebih murah untuk mereka. Satu dolar Amerika atau satu dolar Kanada itu dapatnya lebih banyak ke rupiah,” ujar Adisatrya kepada wartawan usai Rapat Kerja Komisi VI DPR RI bersama Menteri Perdagangan, Selasa (19/5/2026).

Namun, ia menegaskan pelemahan rupiah tidak bisa hanya dilihat dari sisi positifnya saja. Sebab, banyak industri dalam negeri masih bergantung pada impor bahan baku, sehingga biaya produksi otomatis ikut melonjak ketika rupiah tertekan.

Baca juga : Royalti Musik Jadi Sorotan, DPR: Jangan Rugikan Warung Kecil dan Komposer

“Produk industri kita kan juga masih banyak yang bergantung kepada bahan baku impor. Sehingga nilai untuk produksinya juga lebih mahal. Nah ini yang mesti kita perhatikan,” katanya.

Politikus tersebut mengingatkan, jika pelemahan rupiah terus dibiarkan tanpa langkah antisipasi serius dari pemerintah, dampaknya bisa memukul dunia usaha hingga mengancam keberlangsungan industri nasional.

“Rupiah tentu jangan terus merosot nilainya, sehingga menjadi beban untuk industri kita. Kalau industri kita juga kolaps ya enggak ada artinya, siapa yang mau ekspor,” tegasnya.

Karena itu, Komisi VI DPR RI meminta pemerintah menjaga stabilitas ekonomi nasional sekaligus memperkuat ketahanan industri di tengah tekanan global yang semakin berat.

Baca juga : RUU PPRT Harus Terus Diperjuangkan, DPR Diingatkan Besarnya Amanah Rakyat

Selain menyoroti nilai tukar rupiah, Adisatrya juga mendorong Kementerian Perdagangan untuk lebih agresif membuka pasar ekspor non-tradisional bagi produk Indonesia. Kawasan Timur Tengah dan Afrika disebut memiliki potensi besar untuk menyerap produk-produk nasional, khususnya dari sektor usaha kecil dan menengah (UKM).

Ia menilai produk UKM Indonesia memiliki daya saing kuat karena mampu menawarkan harga yang kompetitif bagi negara-negara berkembang.

“Produk-produk UKM saya harapkan bisa memanfaatkan peluang tambahan pasar-pasar dibukanya pasar-pasar non-tradisional bagi ekspor Indonesia,” ujarnya.

Adisatrya mengungkapkan pemerintah saat ini tengah memperluas kerja sama perdagangan dengan Kanada dan kawasan Timur Tengah yang diawali dari Uni Emirat Arab.

Baca juga : Pertumbuhan Ekonomi Berkualitas, DPR: Perlu APBN dan Kebijakan Mikroprudensial Industri Keuangan

Selain itu, pasar Afrika juga dinilai sangat potensial karena banyak negara berkembang di kawasan tersebut membutuhkan produk dengan harga terjangkau.

“Afrika itu banyak negara-negara berkembang juga di situ, yang membutuhkan produk-produk murah yang menurut saya bisa diisi oleh produk-produk UKM kita,” katanya.

Komisi VI DPR RI pun mendesak Kementerian Perdagangan terus memperkuat diplomasi perdagangan agar Indonesia tidak hanya bergantung pada pasar tradisional, tetapi memiliki diversifikasi pasar ekspor yang lebih luas dan kuat menghadapi gejolak ekonomi global.

“Jadi saya minta Kementerian Perdagangan terus aktif dalam bernegosiasi diplomasi perdagangan untuk membuka pasar-pasar lain sehingga diversifikasi pasar kita itu lebih luas lagi,” pungkasnya. (Asp)

Index Berita
Tgl :
Silahkan pilih tanggal untuk melihat daftar berita per-tanggal